JUARA SATU LOMBA PUISI
IBU
Ketika
mata membuka pertama kali
Ada
secercah cahaya redup yang menyapa irisku
Banyak
tanya di benakku, “itu apa?”
Kemudian
ketika rasa gugup dan takut itu menyapa relung yang berdetak
Ada
seulas senyum bercampur tetes-tetes asin yang hangat
Aku
kembali bermonolog, “siapa dia?”
Namun,
tangisanku
menghalau semua jawaban yang nyaris terlontar dari bibir manisnya
--
Kemudian...
Aku
berteriak, wajahku memerah, ada tetes-tetes panas dari permata hitam di wajahku
Aku...
Menangis, kah?
--
Ayunan
itu takkan kulupa, tiada hari tanpa senandung lirih darinya
Takkan
terhapus walau sepersekian detik pun,
Ketika
pelukan hangat nan lembutnya melahirkan kekuatan baru bagiku,
Untuk
pertama kali, aku tersenyum
--
Kala
itu, hujan mengguyur sang Pertiwi
Memupuk
lembah-lembah Bumiku yang gersang tiada peraduan sejuk
Aku
berlari, ketakutan! Sungguh takut!
Ke
mana aku harus mencari pemilik pelukan yang sekian lama menjadi rumahku?
Ke
mana akan kutemukan senandung merdu dan wajah cantik itu?
Ke
mana? Ke mana lagi aku harus menapakkan kaki?
--
Senyuman
miris itu terulas kala mataku terbuka, bagai saat bayi dulu
Aku
baru tersadar setelah mimpi buruk melebur bersama angan kelabu
Orang
itu... Wanita cantik itu...
Ibu?
Oh
Tuhan ‘azza wa jalla
Mengapa
Engkau kirimkan sayap-sayap putih berkilau ini,
Sedangkan
diriku tidak mengingat daya ratu yang sesungguhnya?
Oh
Pencipta yang Maha Karya...
Akankah
kupunya waktu, sekedar untuk bersenda gurau dengan Ibu?
Adakah
sempat bagiku walau sebutir pasir, sekedar untuk menyeduhkannya segelas kopi
penawar rindu?
Oh...
Tubuhku yang kotor, lidahku yang kelu
Bicaralah!
Bicaralah!
Kuingin
minta maaf, kuingin memanggil Ibu
Dosa
dan nestapa itu kian beradu bersama seribu luka yang telah kuukir dalam wajah
tuanya
Bolehkah
aku basuh kaki-kakinya yang berdebu itu?
Biarkan
aku memacari waktu kali ini, biarkan aku berdo’a
Agar
aku dapat detik-detik emas bersama ratu yang menghadirkanku ke dunia
--
Aku
baru ingat...
Sore
itu, hujan reda
Bumi
terlampau basah, terlalu lama menangis bersama langit
Aku
baru ingat...
Aku
telah membuat luka yang terlampau besar
Mengabaikan
ratusan bahkan jutaan do’a dalam tiap Tahajjud sunyinya
--
Namun...
Bolehkah
kiranya aku memeluk sosok rapuh itu
Menjadi
tiang penyangga penuh kekuatan
Sampai
tiba waktunya aku menatap dia dalam balutan kain putih yang suci?
Terima
kasih, Ibu

Comments
Post a Comment